BORONG, TRIBUNGARDAIKN.COM– Penutupan mendadak layanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Manggarai Timur pada hari kerja, Selasa (30/9/2025), memicu kekecewaan dan kemarahan warga. Selain harus pulang tanpa memperoleh pelayanan, seorang warga bahkan mengaku diusir dan nyaris dipukul oleh Kepala Dinas Dukcapil saat hendak mengurus dokumen administrasi.
Marno Gon, warga asal Kecamatan Kota Komba Utara, menceritakan pengalaman pahitnya di kantor Dukcapil. Ia mengaku diancam dan diusir saat duduk di ruang tunggu untuk mengisi data kependudukan.
“Saya tidak tahu kalau ada larangan masuk. Karena pintu terbuka, saya pikir boleh duduk sambil isi data. Saking fokusnya, saya tidak mendengar waktu Pak Kadis menyuruh keluar. Lalu beliau datang lagi dengan marah-marah. Saya tidak terima dan minta penjelasan, tapi bukan jawaban yang saya terima. Malah beliau mengatain saya, ‘Kau tuli kah? Kau tidak mengerti ka?’ dan hampir memukul saya. Untung dilerai oleh staf lain. Setelah itu, beliau meminta stafnya untuk tidak melayani urusan saya lagi,” ujarnya.
Marno menilai sikap Kepala Dinas yang temperamental dan arogan itu sangat tidak pantas, apalagi dilakukan di hadapan masyarakat yang sedang membutuhkan pelayanan administrasi.
“Kami datang jauh-jauh untuk urus dokumen, tapi malah diperlakukan seperti ini. Bukannya diberi solusi, malah diusir dengan emosi,” tambahnya.
Kekecewaan warga tidak berhenti pada tindakan arogan pejabat. Penutupan layanan Dukcapil hanya karena perbaikan atap kantor juga menjadi sorotan publik. Marno mempertanyakan penjadwalan perbaikan yang dilakukan pada hari kerja, padahal masyarakat sangat membutuhkan pelayanan administrasi.
“Kalau memang atap rusak, kenapa tidak dikerjakan Sabtu-Minggu? Atau setidaknya sediakan pelayanan alternatif. Kami datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan kantor tutup, sungguh mengecewakan,” katanya.
Foto yang beredar memperlihatkan kondisi atap kantor Dukcapil yang sedang diperbaiki di hari kerja. Banyak warga mengaku sudah menunggu lama, namun tidak ada pemberitahuan resmi terkait penutupan layanan. Kejadian ini menambah catatan buruk citra pelayanan publik di Dukcapil Manggarai Timur.
Sikap arogan dan temperamental pejabat, ditambah penutupan layanan pada jam kerja, dianggap bertentangan dengan semangat reformasi birokrasi yang menekankan prinsip cepat, ramah, dan profesional. Insiden ini menjadi bukti bahwa masih ada pejabat publik yang mengutamakan ego pribadi di atas pelayanan masyarakat.
Pengamat pelayanan publik menilai kejadian ini bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.
“Pelayanan publik seharusnya menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Jika pejabat tidak menjaga sikap profesional, masyarakat akan kecewa dan hilang kepercayaan,” ujar Marno.
Marno berharap kejadian serupa tidak terulang dan Dukcapil Manggarai Timur segera mengevaluasi sikap pejabat serta penjadwalan perbaikan teknis agar lebih tepat.
“Kami hanya ingin layanan yang layak dan ramah. Bukan dimarahi atau diusir ketika datang mengurus dokumen yang sangat penting,” tegasnya.






