OPINI–Di era informasi yang serba cepat, menulis berita sering dipandang sekadar cara untuk “menjual cerita”. Ujung-ujungnya, banyak pihak melihat jurnalisme sebagai ladang uang padahal, hakikatnya jauh lebih kompleks.
Fenomena ini bukan tanpa sebab: ekonomi media, persaingan ketat, dan tekanan trafik mendorong wartawan, redaksi, bahkan platform digital untuk memprioritaskan klik dan impresi di atas kualitas berita.
Di satu sisi, realitas ekonomi memang tidak bisa diabaikan. Menulis berita membutuhkan waktu, riset, tenaga, dan sumber daya. Wartawan bukan malaikat tanpa kebutuhan materi. Redaksi pun harus menutup biaya operasional dan membayar gaji pegawai. Maka, uang menjadi faktor motivasi yang wajar.
Namun, persoalan muncul ketika motivasi itu mulai mempengaruhi integritas jurnalistik. Saat berita ditulis bukan lagi karena kepentingan publik atau kebenaran, melainkan untuk mengejar trafik atau sponsor, garis etika mulai kabur.
Kondisi ini terlihat jelas di media digital. Judul-judul bombastis, sensational, atau clickbait kini marak. Pembaca dibawa masuk ke cerita yang sering kali dilebih-lebihkan atau bahkan tidak lengkap. Tidak sedikit berita yang menekankan konflik atau kontroversi, karena secara psikologis hal itu lebih mudah menarik perhatian.
Namun, siapa yang diuntungkan dari praktik ini? Media mungkin mendapat klik, wartawan mendapat upah, tapi masyarakat kehilangan informasi yang akurat dan bermakna. Dalam jangka panjang, ini merusak kepercayaan publik terhadap media, yang justru adalah aset terpenting jurnalisme.
Selain itu, orientasi pada uang membuat berita kerap kehilangan konteks. Fakta yang seharusnya diperiksa dengan cermat kadang diselewengkan untuk membentuk narasi tertentu. Narasumber bisa dipilih berdasarkan daya tarik cerita, bukan relevansi, sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak seimbang.
Akhirnya, publik hanya mendapatkan gambaran parsial, yang bisa menyesatkan. Etika jurnalisme mengajarkan prinsip “memberi informasi yang benar, seimbang, dan adil”, tapi tekanan ekonomi bisa membuat prinsip ini tampak sebagai beban daripada pedoman.
Meski begitu, tidak adil jika kita menyalahkan wartawan sepenuhnya. Mereka berada di persimpangan tuntutan profesional dan tekanan ekonomi. Banyak yang tetap menjaga integritas, menolak sensasional, dan berusaha menyajikan informasi yang bermanfaat.
Tantangan besar adalah menciptakan sistem yang memungkinkan jurnalis bekerja secara etis tanpa harus “menjual kebenaran” demi uang. Ini melibatkan pembaca yang cerdas, redaksi yang berkomitmen pada kualitas, dan model bisnis media yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “berapa banyak uang yang bisa dihasilkan dari berita”, tetapi “seberapa banyak tanggung jawab yang kita berikan pada media sebagai pilar demokrasi”.
Menulis berita memang bisa menjadi mata pencaharian, tetapi mata pencaharian itu harus sejalan dengan integritas dan kepentingan publik. Ujung-ujungnya, jika jurnalis tetap memprioritaskan kebenaran, maka uang yang diperoleh bukan sekadar hasil transaksi ekonomi, melainkan buah dari kepercayaan yang dibangun dengan hati-hati.
Menjadi kaya dari berita memang mungkin, tapi menjadi kredibel jauh lebih berharga. Jika orientasi kita hanya pada uang, jurnalisme akan kehilangan ruhnya, dan masyarakat yang seharusnya diuntungkan justru menjadi korban. Media yang sehat bukan yang penuh klik, tetapi yang penuh akal sehat, moral, dan keberanian untuk menghadirkan fakta walau tidak selalu populer, tapi selalu benar.






